Terimakasih ngablogburit

Ah sudah sampai penghujung puasa, biasanya kita semakin rajin untuk beribadah, bersedekah dan melakukan banyak hal positif lainnya. Menulis juga salah satu alternatif untuk membuat kita aktif dan semakin cakap dalam bidang olah kata.

Ngablogburit oh ngablogburit, sebuah kegiatan yang menawarkan reward punisment terhadap orang-orang yang mempunyai minat untuk membuat sebuah karya tulis dengan memberikan hadiah setimpal yang bisa kita gunakan sebagai uang tambahan untuk lebaran. Selain itu, tanpa kita sadari semangat untuk menulis itu merangsang kita yang “jarang mengupdate blog” untuk turut mencoba siapa tau bisa dapat hadiah.

Menurut saya kegiatan seperti ini memang sangat cocok untuk orang Indonesia yang maniac lomba gratisan. Asal memang benar-benar bagus, bukan cuma sekadar membuat lomba tapi yang hanya berlandaskan agar sebuah brand ramai di kunjungi atau agar terkenal. Saya semakin salut dengan kegiatan ini, terbukti dari hari kehari peminat acara yang bermanfaat untuk melatih kecakapan dalam menulis ini semakin banyak.

Semakin banyak tulisan kreatif yang ter-create di blogdetik ini tentunya. Semakin banyak blogger detik yang termotifasi membuat good content agar banyak di baca pengunjung lain. well, tapi tak jarang banyak yang kecewa karna tulisan kita tidak bisa menjadi favorite di lomba yang diadakan tiap harinya. Banyak yang kecewa? tentu saja.

Saya sendiri seorang newbi yang hanya mengikuti beberapa kalo kegiatan ngablogbuti ini. Walau hanya ikut beberapa kali tapi 2 tulisan saya “gara-gara puasa kita, aku, kamu jadi maruk” dan “cara pandang dari sisi yang berbeda untuk memberi kata maaf” bisa masuk hotblog pada blog detik. Allahdulillah ya.. Anda tau, bawasannya mengikuti kegiatan ini adalah sebagai proses bagaimana sebuah tulisan itu dihasilkan dari jerih payah usah dan curahan pikiran kita hingga menjadi sebuah tulisan yang apik dan bermanfaat bagi pembaca. Sebuah proses dalam berbagai hal tidak ada yang instant. Proses instant hanya akan membuat anda bangga dan jaya sesaat. Setelah itu anda kembali ke angkat 0. Saya akan memberikan sedikit cerita tentang susahnya proses berjalan Saya mengutipnya dari buku My Voice Will Go with You: The Teaching Tales of Milton Erickson (1982) yang disusun dan disunting oleh Sidney Rosen.

Kita mempelajari banyak hal di tingkat sadar, lalu melupakan apa yang kita pelajari dan menggunakan keterampilan kita dalam mengerjakan berbagai hal. Kautahu, aku memiliki keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan orang lain. Aku terserang polio dan lumpuh total. Peradangannya begitu rupa sehingga inderaku lumpuh juga. Tetapi aku bisa menggerakkan mata dan pendengaranku tidak terganggu. Setiap hari aku terbaring sendirian di ranjang, tidak bisa menggerakkan apa pun kecuali bola mataku. Aku terkungkung di rumah pedesaan dengan tujuh saudara perempuan, seorang saudara laki-laki, dua orangtuaku, dan seorang suster perawat.

Bagaimana aku bisa menyenangkan diriku sendiri dengan keadaan ni? Aku mulai mengamati orang-orang dan lingkunganku. Aku segera menyadari bahwa saudara-saudara perempuanku bisa mengatakan “tidak” ketika mereka bermaksud bilang “ya”. Dan, sebaliknya, mereka bisa bilang “ya” ketika ingin bilang “tidak”. Mereka bisa menyodorkan kepada saudara perempuan yang lain sebutir apel dan menariknya kembali. Dan aku mulai belajar bahasa nonverbal dan bahasa tubuh.

Aku mempunyai adik bayi perempuan yang waktu itu mulai belajar merangkak. Aku pun akan belajar berdiri dan berjalan. Dan bisa kaubayangkan betapa besar minatku untuk mengamati adik bayiku saat ia belajar merangkak dan kemudian belajar berdiri. Dan kita tidak pernah tahu bagaimana kita sudah mempelajari cara berdiri. Kita bahkan tidak pernah tahu bagaimana kita bisa berjalan. Kau bisa berpikir bahwa kau mampu berjalan lurus sejauh enam ubin—tanpa hambatan tertentu.

Kau tidak tahu bahwa waktu itu kau tidak bisa berjalan sejauh enam ubin dengan langkah mantap! Kau tidak tahu apa yang kaulakukan ketika kau berjalan. Kau tidak tahu bagaimana kau belajar berdiri. Kau belajar dengan menjulurkan tanganmu ke atas dan menarik tubuhmu ke atas. Itu meletakkan tekanan pada kedua tanganmu—dan, tanpa sengaja, kau mendapati bahwa kau bisa meletakkan beban tubuhmu di kaki-mu. Itu betul-betul hal yang sangat rumit karena lututmu akan goyah—dan ketika lututmu kuat, pahamu yang akan goyah. Kemudian kau mendapati kakimu menyilang. Dan kau tidak bisa berdiri karena kedua lutut dan pahamu akan goyah. Kedua kakimu menyilang—dan kau segera belajar untuk mencari pegangan—dan kau menarik tubuhmu ke atas. Pada saat itu kau memiliki tugas untuk mempelajari bagaimana cara mempertahankan lututmu tetap kokoh—satu demi satu—dan segera setelah mempelajari itu, kau harus mempelajari bagaimana memberi perhatian agar paha tetap lurus. Kemudian kau menyadari bahwa pada saat yang bersamaan kau harus belajar memberi perhatian demi menjaga pahamu tetap lurus dan lutut kokoh dan kaki merenggang. Sekarang, kau akhirnya bisa berdiri dengan kaki merenggang, dengan tangan tetap bertumpu.

Lalu datang pelajaran tiga tahap. Kau menyalurkan berat tubuhmu pada satu tangan dan kedua kakimu, tangan ini tidak cukup kuat untuk menopang tubuhmu [Erickson mengangkat tangan kirinya]. Benar-benar pekerjaan berat—membuatmu belajar berdiri tegak, pahamu lurus tegak, lututmu tegak, kaki merenggang, tangan yang ini [tangan kanan] menekan ke bawah kuat-kuat. Kemudian kau menemukan bagaimana mengatur keseimbangan tubuh. Kau mengatur keseimbangan tubuhmu dengan memutar kepala, memutar tubuhmu. Kau harus belajar untuk mengkoordinasikan semua pengaturan keseimbangan tubuh ketika kau menggerakkan tanganmu, kepalamu, bahumu, tubuhmu—dan kemudian kau harus mempelajari lagi itu semua dengan tangan yang lain. Kemudian datanglah pekerjaan yang sangat berat untuk mengangkat kedua tanganmu dan menggerakkan kedua tanganmu ke segala arah dan untuk bertumpu pada kedua kakimu yang tegak, dan merenggang. Dan menjaga pahamu

tetap lurus—lututmu lurus dan teruslah membagi perhatian sehingga kau bisa memperhatikan lututmu, pahamu, tangan kirimu, tangan kananmu, kepalamu, tubuhmu. Dan akhirnya, ketika kau memiliki cukup keterampilan, kau mencoba menjaga keseimbangan tubuh di atas satu kaki.Itu pekerjaan yang luar biasa sulit.

Bagaimana kau menjaga seluruh tubuhmu sambil mempertahankan pahamu tetap lurus, lututmu lurus dan merasakan gerakan tangan, gerakan kepala, gerakan tubuh? Dan kemudian kau melangkahkan satu kakimu ke depan dan mengubah pusat keseimbangan tubuhmu. Lututmu menekuk—dan kau jatuh. Kau bangkit lagi dan mencobanya lagi. Akhirnya kau belajar bagaimana menggerakkan satu kaki ke depan dan mengayunkan satu langkah dan tampaknya berhasil. Maka kau mengulanginya lagi—tampaknya berhasil. Kemudian langkah ketiga—dengan kaki yang sama dan kau terjengkang! Kau memerlukan waktu beberapa lama untuk melangkah berganti-ganti kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri. Sekarang kau bisa melambaikan tanganmu, memutar kepalamu, melihat kiri dan kanan, dan berjalan melenggang, tanpa memberi perhatian sedikit pun untuk membuat lututmu lurus, pahamu lurus.

Anda sudah membaca betapa susahnya berjalan. Tentunya sama dengan menulis, proses agar menjadiakan penulisan kita menjadi lebih baik adalah dengan berlatih dan terus berlatih. Terimakasih blogdetik atas adanya kegiatan ngablogburit ini. Walaupun saya belum menang taun ini tapi semangat untuk mengupdate blog ini selalu datang ketika kegiatan ini dimulai. Semoga semakin sukses di tahun depan.

Comments (2)

Cara pandang dari sisi yang berbeda untuk memberi kata maaf

Saya adalah anak muda yang jarang sekali mendapatkan banyak jam tidur. Bukan karena banyak pekerjaan yang saya harus kerjakan. Tetapi memang saya sering kali mengalami insomnia berlebihan, kadang jam 1 malam saya masih bertengger di kursi ruang tamu sambil menonton tv. Pagi harinya tak jarang mata saya seperti rolling dor dengan pelumas yang terlalu banyak. Rasanya seperti ingin jatuh dan menutup.

Mempunyai waktu tidur berlebih adalah harapan saya ketika siang hari. Untuk sekedar mendapat tempat singgah untuk memejamkan mata sejenak dan mereganggkan otot. Anda memerlukan tidur yang berkualitas, sebagai persiapan sempurna untuk menghadapi apa yang mungkin ruwet saat anda terjaga. Ketika rasa kantuk menenjang, konsentrasi dan cara berfikir anda jadi kurang sensitive pada hal-hal di sekeliling. Itu wajar terjadi karna seluruh otot badan anda kurang istirahat. Anda jadi sering kali marah ketika sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang anda inginkan terjadi.

Saya tinggal bersama kakek dan nenek saya. Anda tau, kadang seseorang yang sudah berumur itu malah mempunyai sifat terlalu peka. Singkat cerita ketika saya bangun tidur ketika siang hari dengan kepala yang sedikit pusing karna posisi tidur yang kurang pas. Lantas saya duduk dan menonton televisi untuk mengumpulkan segenap nyawa saya yang entah masih terbang kesana-kemari. Ketika itu nenek saya menawarkan menu untuk berbuka puasa dengan kalimat pelan. Tapi, saya malah tidak menggubris pertanyaan beliau. Nenek saya meningkatkan volume lebih keras untuk menawarkan menu berbuka puasa untuk yang ke-2 kalinya. Saya pun sontak kaget dan emosi. Tanpa sadar saya menjawab dengan suara keras setengah membentak. Wajah nenek saya terperanjat kaget dan takut. Lalu beliau pergi kedapur dengan diam.

Saya yang masih menikmati acara televisi dan tetap tidak menyadari bahwa saya telah melukai hati nenek yang mempunyai itikat baik dengan cara yang lemah lebut untuk menawarkan menu berbuka puasa. Setelah beberapa lama saya sadar bawasanya saya telah melukai perasaan nenek yang tulus itu. Tak menunggu lama saya menuju kedapur memegang tangan nenek dan mencium tangan setengah rapuh itu untuk meminta maaf.

Nenek saya tertawa dan mengatakan “Nenek ndak marah le, nenek tau kamu baru bangun tidur.. memang orang yang baru bangun tidur itu kadang mudah marah ketika ada sesuatu yang ndak kita suka”. Lalu saya bertanya mengapa nenek sangat mudah memaafkan orang lain?! Beliau berakata “Untuk memberi sebuah kata maaf yang kita butuhkan adalah kita memposisikan diri kita ke posisi orang lain yang melakukan kesalahan, maka kamu seolah akan mengerti kenapa dia melakukan itu.” Saya terdiam dan mengambil satu pelajaran penting mengenai arti kata maaf pada saat itu juga.

Comments (4)

Mendapat rezeki dan Bersedekah itu menahan nafsu.

Anda tau ketika berpuasa biasanya anda menahan hawa nafsu untuk makan, minum dan berbuat batil. Pada bulan puasa biasanya banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Di antaranya membagikan takjil di jalan-jalan. Atau bersedekah kepada anak yatim dan orang yang tidak mampu. Bulan puasa yang hanya 1 bulan dalam 12 bulan dalam 1 tahun benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan 11 bulan lainnya?

Kadang beberapa orang sangat getol untuk fokus berlomba mencari kebaikan tuhan di bulan ini. Dan itu bagus menurut saya. Tapi beberapa orang di 11 bulan lain tetap acuh untuk mempertahankan semangat ketika 1 bulan penuh berpuasa. ini tak ubahnya seperti melodrama berpuasa. Lantas bagaimana bisa menahan nafsu ketika 11 bulan lain selain bulan puasa. Saya ada beberapa saran dan sedikit cerita mengenai konsep rezeji dan bersedekah. Ini menurut saya pribadi. Ketika anda punya pendapat lain tentu saja boleh.

Begini analogi ceritanya. Ada 2 orang yang sedang berbincang dengan asik ketika siang hari. Salah satunya adalah seorang pengusaha dan satunya lagi adalah ustad. Sang ustad bertanya “pak, konsep rezeki menurut anda seperti apa?”. Lalu pengusaha itu menjawab “ketika kita sudah berusah dengan keras dan berdoa sesuatu yang kita harapkan pasti tercapai dan itu rezeki kita”. ustadpun diam dan hanya mengatakan “hmmm…”.

Obrolan singkat itupun di akhiri. Segera mereka berdua pergi untuk mencari makan siang. Ketika di tengah jalan, kendaraan yang mereka tumpangi berenti di lampu merah. Lalu seorang anak penjual koran menawarkan dagangannya kepada sang pengusaha tersebut. Karna kebetulan sang pengusaha sedang tidak memerlukan koran maka ia menolak untuk membeli. Setelah itu kendaraan mereka berjalan menuju tempat makan.

Setelah selesai makan mereka berdua berbincang lagi. Di tengah perbincangan itu terlihat anak penjual koran yang berbeda dengan yang di lampu merah tadi berjalan melewati mereka berdua. Entah mengapa tiba-tiba sang pengusaha ingin sekali membeli sebuah koran.

Setelah membeli koran tersebut, sang ustad bertanya lagi “pak, anda penjual koran yang berada di lampu merah tadi dengan yang baru saja lewat apa bedanya? mengapa bapak lebih memilih membeli koran barusan ketimbang membeli koran yang ada di lampu merah?”. Sang pengusaha pun menjawab “entah mengapa ustad, saya tiba-tiba butuh membeli koran untuk sekadar melihat berita. Ustadpun meneruskan “Itulah konsep rezeki, pak. Anak penjual koran yang menawarkan di lampu merah tadi sudah berusaha menawarkan koran, sedangkan anak yang barusan tidak melakukan usaha tetapi tetap saja koran itu anda beli. Intinya rezeki itu sudah ada yang mengatur pak. Walaupun anda sudah berusaha sekeras mungkin tetapi memang belum rezeki anda ya sudah.

Setelah itu sang pengusaha mengerti mengenai konsep rezeki yang dimaksud sang ustad. Begitulah cerita yang saya tau mengenai konsep rezeki. Lalu menahan nafsu itu bisa dengan cara bersedekah. Mengapa demikian? Bagi saya bersedekah adalah cara mengurangi nafsu. Begini analoginya. Jika anda hanya mendapatkan rezeki 5000 sehari dan ingin membeli pecel, apa yang akan anda lakukan? pasti anda mengambil lauk telor atau tempe seadanya agar cukup dengan uang yang sedang anda bawa? tapi ketika anda mendapat rezeki uang 20rb dan ingin membeli pecel? apa yang anda lakukan? anda pasti ingin mengambil lauk yang enak-enak dan hanya berfikir menghabiskan uang 20rb itu. Sendakan rezeki yang anda terima itu bukanlah mutlak untuk anda semua. Karna allah menitipkan rezeki-rezeki orang-orang miskin di rezeki yang anda punya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menahan nafsu? bersedekahlah, sedekah tidak hanya harus 2,5% dari apa yang anda miliki. Anda bisa menyedekahkan setengah rejeki anda untuk menahan nafsu. analoginya ketika anda sendang punya banyak rezeki anda pasti akan ingin membeli banyak sesuatu. sendangkan manusia itu memiliki sifat yang tidak pernah puas terhadap sesuatu. Tapi, ketika anda menyedekahkan rezeki anda. Bayangan-banyangan untuk membeli barang-barang dan menghabiskan uang itu tidak akan terfikirkan…

Sudahkan anda bersedekah hari ini?

Comments

Gara-gara puasa kita, aku, kamu jadi maruk

Perasaan gelisah yang menandakan gejala depresi sering dialami para perokok saat berusaha menghentikan kebiasaan merokoknya. Anda tau bahwa merokok itu membuat anda ketagihan. Di awali dengan mencoba sebatang lalu mencoba untuk belajar mengeluarkan asap melalui hidung menjadi motovasi anda untuk terus merokok dan mencoba gaya-gaya yang di rasa keren ala perkok handal.

Tapi disini saya tidak akan bercerita mengenai bagaimana teknik merokok yang terlihat keren atau bagai mana merokok menghasilkan uang. Semua itu hanya ada di text book orang yang menganggap rokok adalah nafas kehidupan. Sehingga banyak sekali teori-teori muskil yang tercipta mengenai rokok. Seperti “Jika anda merokok, anda akan awet muda dan tetap segar” Lalu mereka meneruskan dengan teori “coba lihat saja ikan bandeng yang di asapi. Pasti tahan lama toh?” Anda akan menemukan orang-orang ngotot seperti mereka ketika anda member saran bahwa rokok itu tidak baik buat kesehatan dan segeralah berhenti jika ingin sehat.

maruk saat berbuka

Semua teori dan logika yang benar akan terpentalkan jika bertemu orang-orang perokok handal seperti mereka. Tapi, ketika anda berbicara bawasannya puasa itu bisa memeprlambat penuaan. Anda juga perlu menyertakan bukti agar orang percaya oleh kata-kata anda. Sertakan lampiran atau kutipan dari seseorang yang benar-benar terpercaya agar teori anda bisa diterima.

Menurut dr Siti Setiati SpPD, spesialis penyakit dalam dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indoenesia (FKUI), dengan berpuasa, jumlah kalori makanan yang kita konsumsi biasanya akan berkurang.”Pembatasan jumlah kalori makanan adalah salah satu cara yang telah terbukti dapat memperlambat penuaan. Serta mencegah penyakit yang sering timbul pada usia lanjut dan kanker,”

Maka, berpuasalah!

Tertunya puasa membawa banyak berkah pada kita dalam menjaga kesehatan tubuh. Selain bisa memperlambat penuaan, puasa juga bisa membersihkan racun-racun yang ada dalam perut anda ketika 11 bulan anda tidak berpuasa. Racun-racun itu serasa mengamuk ketika tidak di beri makan selama kurang lebih 12 jam anda berpuasa. Akibatnya, anda akan merasa ingin melahap segala sesuatu yang anda lihat.

Ketika anda berpuasa anda kan berangan-angan dan membayangkan makanan apa yang akan jadi santap berbuka anda. Bukan berarti berangan-angan tidak di perbolehkan. Tapi, jika anda terlalu berangan-angan dan berharap makanan itu segera ada di depan anda tentu pahala puasa anda akan berkurang.
Selama mengunggu dan terus menunggu. Jam akan terasa berputar sangat lama. Bahkan jika anda tidur sekalipun walau terasa anda sudah tertidur sangat lama, pada nyatanya hanya sebentar. Fenomena-fenomena seperti itu pasti sering anda temui saat berpuasa, bukan?

Setelah berbuka, anda akan merasa ingin melahap apa yang ada di depan mata. Bukan hanya makanan. Tapi, rokokpun ketika kita menahannya lama. Pasti setelah itu gaya merokok anda akan menjadi seperti lokomotif dengan berbahan bakar kayu dan berharap kayu-kayu itu terus di isi agar bahan bakar rokok yang anda hirup itu terpuaskan ketika berbuka puasa. Sama seperti saya yang setelah menulis artikel ini sedang mangap-mangap seperti ikan mas koki yang habis melahap 1 porsi bebek goring dan 1 gelas jus alpokat dengan meminum tanpa bernafas. Bayangkanlah!

picture taken from here

Comments (3)

Ketika menunggu itu membuat kita lapar

Ketika Menunggu itu membuat kita lapar

Seseorang menanyakan kepada saya. Apakah wajib meminta maaf kepada semua orang ketika menjelang puasa? Pada hari-hari menjelang puasa anda akan sering sekali menemui kejadian seperti beberapa orang mengirimi anda broadcast message untuk meminta maaf. Beberapa hari yang lalu saya mendapati beberpa broadcast message kedalam handphone saya. Kebanyakan memang masuk melalui messenger tak sedikit pula melalui melalui sms.

Lalu, apakah wajib meminta maaf sebelum bulan puasa? Menurut saya pribadi. Sejak kecil hingga sekarang saya tidak pernah di ajarkan oleh guru mengaji saya untuk meminta maaf sebelum puasa. Dan menurut saya meminta maaf lebih tepat jika kita lontarkan saat hari raya idul fitri atau idul adha. Mungkin tradisi seperti ini ada karena adat istiadat yang turun temurun ada untuk meminta maaf sebelum datangnya bulan puasa. Saya tidak melarang untuk saling meminta maaf, tapi kegiatan ini adalah bukan kegiatan yang wajib kita lakukan. Apalagi sampai mengirim berkali-kali.

Anda tidak perlu meminta maaf kepada saya sebelum menjalankan puasa. Bagi saya, ketika bulan puasa datang, yang wajib kita persiapkan adalah niat kita untuk bisa berpuasa penuh selama 30 hari tanpa ada yang terlewat atau bolong di tengah jalan karena anda terbujuk untuk mencicipi es buah atau es degan di pinggir jalan. Bukan malah sibuk mengirimkan sms dan berita broadcast melalui media yang anda punya.

Lalu, apa yang sudah anda persiapkan untuk menjalani puasa di awal? Bagi saya puasa di awal bulan tidak menjadi masalah asal mempunyai niat untuk menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh. Biasanya yang anda butuhkan adalah obat sakit maag ketika asam lambung anda meningkat karena belum terbiasa puasa.

Saya teringat dulu ketika awal menjalani puasa saya sering merasa ingin berhenti di tengah jalan karena alasan sakit maag/tidak kuat untuk menahan lapar. Kadang juga tak jarang sesekali mencui-curi kesempatan sembunyi-sembunyi kedapur untuk sekedar meneguk 1 gelas air. Kadang di saat mengambil air wudhu saya mencuri-curi untuk menelan air itu. Tak jarang kegiatan seperti itu menjadi bahan candaan pada waktu kecil.

Pada saat puasa awal juga kadang ketika selesai pulang sekolah saya langsung berlari ke dapur dan membuka kulkas untuk meneguk air dingin karna setengah hari menahan haus. Setelah menghabiskan kurang lebih setengah botol akhirnya saya teringat bahwa saya masih menjalankan puasa. Anda pernah melakukan itu? Saya rasa anda termasuk orang-orang beruntung jika pernah merasakan hal yang sama seperti saya.

Cerita di awal puasa adalah masa-masa dimana ketika menuggu itu membuat kita lapar. Semakin di tunggu rasa lapar itu semakin bergejolak dan membuat kita semakin tidak sabar untuk menyantap hidangan berbuka puasa, Kadang malah jauh sebelum jam berbuka kita sudah berandai-andai makanan apa yang akan kita makan pada saat berbuka puasa nanti.

Jika menunggu itu membuat kita lapar mengapa harus di tunggu? di jalani dengan penuh ikhlas itu lebih terasa mudah ketimgbang harus menunggu dengan berandai-andai makanan apa yang akan kita makan ketika berbuka puasa nanti.

Gambar di ambil dari sini

Comments (6)

« Previous entries