Cara pandang dari sisi yang berbeda untuk memberi kata maaf

23 Aug 2011

Saya adalah anak muda yang jarang sekali mendapatkan banyak jam tidur. Bukan karena banyak pekerjaan yang saya harus kerjakan. Tetapi memang saya sering kali mengalami insomnia berlebihan, kadang jam 1 malam saya masih bertengger di kursi ruang tamu sambil menonton tv. Pagi harinya tak jarang mata saya seperti rolling dor dengan pelumas yang terlalu banyak. Rasanya seperti ingin jatuh dan menutup.

Mempunyai waktu tidur berlebih adalah harapan saya ketika siang hari. Untuk sekedar mendapat tempat singgah untuk memejamkan mata sejenak dan mereganggkan otot. Anda memerlukan tidur yang berkualitas, sebagai persiapan sempurna untuk menghadapi apa yang mungkin ruwet saat anda terjaga. Ketika rasa kantuk menenjang, konsentrasi dan cara berfikir anda jadi kurang sensitive pada hal-hal di sekeliling. Itu wajar terjadi karna seluruh otot badan anda kurang istirahat. Anda jadi sering kali marah ketika sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang anda inginkan terjadi.

Saya tinggal bersama kakek dan nenek saya. Anda tau, kadang seseorang yang sudah berumur itu malah mempunyai sifat terlalu peka. Singkat cerita ketika saya bangun tidur ketika siang hari dengan kepala yang sedikit pusing karna posisi tidur yang kurang pas. Lantas saya duduk dan menonton televisi untuk mengumpulkan segenap nyawa saya yang entah masih terbang kesana-kemari. Ketika itu nenek saya menawarkan menu untuk berbuka puasa dengan kalimat pelan. Tapi, saya malah tidak menggubris pertanyaan beliau. Nenek saya meningkatkan volume lebih keras untuk menawarkan menu berbuka puasa untuk yang ke-2 kalinya. Saya pun sontak kaget dan emosi. Tanpa sadar saya menjawab dengan suara keras setengah membentak. Wajah nenek saya terperanjat kaget dan takut. Lalu beliau pergi kedapur dengan diam.

Saya yang masih menikmati acara televisi dan tetap tidak menyadari bahwa saya telah melukai hati nenek yang mempunyai itikat baik dengan cara yang lemah lebut untuk menawarkan menu berbuka puasa. Setelah beberapa lama saya sadar bawasanya saya telah melukai perasaan nenek yang tulus itu. Tak menunggu lama saya menuju kedapur memegang tangan nenek dan mencium tangan setengah rapuh itu untuk meminta maaf.

Nenek saya tertawa dan mengatakan Nenek ndak marah le, nenek tau kamu baru bangun tidur.. memang orang yang baru bangun tidur itu kadang mudah marah ketika ada sesuatu yang ndak kita suka. Lalu saya bertanya mengapa nenek sangat mudah memaafkan orang lain?! Beliau berakata Untuk memberi sebuah kata maaf yang kita butuhkan adalah kita memposisikan diri kita ke posisi orang lain yang melakukan kesalahan, maka kamu seolah akan mengerti kenapa dia melakukan itu. Saya terdiam dan mengambil satu pelajaran penting mengenai arti kata maaf pada saat itu juga.


TAGS


-

Author

Follow Me