Terimakasih ngablogburit

26 Aug 2011

Ah sudah sampai penghujung puasa, biasanya kita semakin rajin untuk beribadah, bersedekah dan melakukan banyak hal positif lainnya. Menulis juga salah satu alternatif untuk membuat kita aktif dan semakin cakap dalam bidang olah kata.

Ngablogburit oh ngablogburit, sebuah kegiatan yang menawarkan reward punisment terhadap orang-orang yang mempunyai minat untuk membuat sebuah karya tulis dengan memberikan hadiah setimpal yang bisa kita gunakan sebagai uang tambahan untuk lebaran. Selain itu, tanpa kita sadari semangat untuk menulis itu merangsang kita yang “jarang mengupdate blog” untuk turut mencoba siapa tau bisa dapat hadiah.

Menurut saya kegiatan seperti ini memang sangat cocok untuk orang Indonesia yang maniac lomba gratisan. Asal memang benar-benar bagus, bukan cuma sekadar membuat lomba tapi yang hanya berlandaskan agar sebuah brand ramai di kunjungi atau agar terkenal. Saya semakin salut dengan kegiatan ini, terbukti dari hari kehari peminat acara yang bermanfaat untuk melatih kecakapan dalam menulis ini semakin banyak.

Semakin banyak tulisan kreatif yang ter-create di blogdetik ini tentunya. Semakin banyak blogger detik yang termotifasi membuat good content agar banyak di baca pengunjung lain. well, tapi tak jarang banyak yang kecewa karna tulisan kita tidak bisa menjadi favorite di lomba yang diadakan tiap harinya. Banyak yang kecewa? tentu saja.

Saya sendiri seorang newbi yang hanya mengikuti beberapa kalo kegiatan ngablogbuti ini. Walau hanya ikut beberapa kali tapi 2 tulisan saya “gara-gara puasa kita, aku, kamu jadi maruk” dan “cara pandang dari sisi yang berbeda untuk memberi kata maaf” bisa masuk hotblog pada blog detik. Allahdulillah ya.. Anda tau, bawasannya mengikuti kegiatan ini adalah sebagai proses bagaimana sebuah tulisan itu dihasilkan dari jerih payah usah dan curahan pikiran kita hingga menjadi sebuah tulisan yang apik dan bermanfaat bagi pembaca. Sebuah proses dalam berbagai hal tidak ada yang instant. Proses instant hanya akan membuat anda bangga dan jaya sesaat. Setelah itu anda kembali ke angkat 0. Saya akan memberikan sedikit cerita tentang susahnya proses berjalan Saya mengutipnya dari buku My Voice Will Go with You: The Teaching Tales of Milton Erickson (1982) yang disusun dan disunting oleh Sidney Rosen.

Kita mempelajari banyak hal di tingkat sadar, lalu melupakan apa yang kita pelajari dan menggunakan keterampilan kita dalam mengerjakan berbagai hal. Kautahu, aku memiliki keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan orang lain. Aku terserang polio dan lumpuh total. Peradangannya begitu rupa sehingga inderaku lumpuh juga. Tetapi aku bisa menggerakkan mata dan pendengaranku tidak terganggu. Setiap hari aku terbaring sendirian di ranjang, tidak bisa menggerakkan apa pun kecuali bola mataku. Aku terkungkung di rumah pedesaan dengan tujuh saudara perempuan, seorang saudara laki-laki, dua orangtuaku, dan seorang suster perawat.

Bagaimana aku bisa menyenangkan diriku sendiri dengan keadaan ni? Aku mulai mengamati orang-orang dan lingkunganku. Aku segera menyadari bahwa saudara-saudara perempuanku bisa mengatakan tidak ketika mereka bermaksud bilang ya. Dan, sebaliknya, mereka bisa bilang ya ketika ingin bilang tidak. Mereka bisa menyodorkan kepada saudara perempuan yang lain sebutir apel dan menariknya kembali. Dan aku mulai belajar bahasa nonverbal dan bahasa tubuh.

Aku mempunyai adik bayi perempuan yang waktu itu mulai belajar merangkak. Aku pun akan belajar berdiri dan berjalan. Dan bisa kaubayangkan betapa besar minatku untuk mengamati adik bayiku saat ia belajar merangkak dan kemudian belajar berdiri. Dan kita tidak pernah tahu bagaimana kita sudah mempelajari cara berdiri. Kita bahkan tidak pernah tahu bagaimana kita bisa berjalan. Kau bisa berpikir bahwa kau mampu berjalan lurus sejauh enam ubintanpa hambatan tertentu.

Kau tidak tahu bahwa waktu itu kau tidak bisa berjalan sejauh enam ubin dengan langkah mantap! Kau tidak tahu apa yang kaulakukan ketika kau berjalan. Kau tidak tahu bagaimana kau belajar berdiri. Kau belajar dengan menjulurkan tanganmu ke atas dan menarik tubuhmu ke atas. Itu meletakkan tekanan pada kedua tanganmudan, tanpa sengaja, kau mendapati bahwa kau bisa meletakkan beban tubuhmu di kaki-mu. Itu betul-betul hal yang sangat rumit karena lututmu akan goyahdan ketika lututmu kuat, pahamu yang akan goyah. Kemudian kau mendapati kakimu menyilang. Dan kau tidak bisa berdiri karena kedua lutut dan pahamu akan goyah. Kedua kakimu menyilangdan kau segera belajar untuk mencari pegangandan kau menarik tubuhmu ke atas. Pada saat itu kau memiliki tugas untuk mempelajari bagaimana cara mempertahankan lututmu tetap kokohsatu demi satudan segera setelah mempelajari itu, kau harus mempelajari bagaimana memberi perhatian agar paha tetap lurus. Kemudian kau menyadari bahwa pada saat yang bersamaan kau harus belajar memberi perhatian demi menjaga pahamu tetap lurus dan lutut kokoh dan kaki merenggang. Sekarang, kau akhirnya bisa berdiri dengan kaki merenggang, dengan tangan tetap bertumpu.

Lalu datang pelajaran tiga tahap. Kau menyalurkan berat tubuhmu pada satu tangan dan kedua kakimu, tangan ini tidak cukup kuat untuk menopang tubuhmu [Erickson mengangkat tangan kirinya]. Benar-benar pekerjaan beratmembuatmu belajar berdiri tegak, pahamu lurus tegak, lututmu tegak, kaki merenggang, tangan yang ini [tangan kanan] menekan ke bawah kuat-kuat. Kemudian kau menemukan bagaimana mengatur keseimbangan tubuh. Kau mengatur keseimbangan tubuhmu dengan memutar kepala, memutar tubuhmu. Kau harus belajar untuk mengkoordinasikan semua pengaturan keseimbangan tubuh ketika kau menggerakkan tanganmu, kepalamu, bahumu, tubuhmudan kemudian kau harus mempelajari lagi itu semua dengan tangan yang lain. Kemudian datanglah pekerjaan yang sangat berat untuk mengangkat kedua tanganmu dan menggerakkan kedua tanganmu ke segala arah dan untuk bertumpu pada kedua kakimu yang tegak, dan merenggang. Dan menjaga pahamu

tetap luruslututmu lurus dan teruslah membagi perhatian sehingga kau bisa memperhatikan lututmu, pahamu, tangan kirimu, tangan kananmu, kepalamu, tubuhmu. Dan akhirnya, ketika kau memiliki cukup keterampilan, kau mencoba menjaga keseimbangan tubuh di atas satu kaki.Itu pekerjaan yang luar biasa sulit.

Bagaimana kau menjaga seluruh tubuhmu sambil mempertahankan pahamu tetap lurus, lututmu lurus dan merasakan gerakan tangan, gerakan kepala, gerakan tubuh? Dan kemudian kau melangkahkan satu kakimu ke depan dan mengubah pusat keseimbangan tubuhmu. Lututmu menekukdan kau jatuh. Kau bangkit lagi dan mencobanya lagi. Akhirnya kau belajar bagaimana menggerakkan satu kaki ke depan dan mengayunkan satu langkah dan tampaknya berhasil. Maka kau mengulanginya lagitampaknya berhasil. Kemudian langkah ketigadengan kaki yang sama dan kau terjengkang! Kau memerlukan waktu beberapa lama untuk melangkah berganti-ganti kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri. Sekarang kau bisa melambaikan tanganmu, memutar kepalamu, melihat kiri dan kanan, dan berjalan melenggang, tanpa memberi perhatian sedikit pun untuk membuat lututmu lurus, pahamu lurus.

Anda sudah membaca betapa susahnya berjalan. Tentunya sama dengan menulis, proses agar menjadiakan penulisan kita menjadi lebih baik adalah dengan berlatih dan terus berlatih. Terimakasih blogdetik atas adanya kegiatan ngablogburit ini. Walaupun saya belum menang taun ini tapi semangat untuk mengupdate blog ini selalu datang ketika kegiatan ini dimulai. Semoga semakin sukses di tahun depan.


TAGS


-

Author

Follow Me